Kisah inspiratif datang dari ranah sepak bola wanita di Inggris melalui kesuksesan Helen Hardy yang berhasil mengembangkan bisnisnya dari sebuah kamar tidur di Gorton hingga membuka toko ritel global di Deansgate, Manchester. Bisnis bernama Foudys ini terinspirasi dari sosok Julie Foudy, gelandang legendaris asal Amerika Serikat yang aktif memperjuangkan kesetaraan gender. Foudys didirikan pada tahun 2020 demi mengatasi kekosongan pasar global terhadap ketersediaan merchandise resmi, seperti jersey dengan cetakan nama-nama pemain sepak bola wanita.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut penuturan Helen Hardy, ide bisnis ini muncul saat ia sering menonton langsung pertandingan Manchester City Women FC dan menyadari bahwa penonton di stadion justru lebih banyak mengenakan jersey bernama Aguero. "Pertanyaannya saat itu adalah dari mana Anda bisa mendapatkan jersey wanita, saya tidak bisa menemukannya di toko atau daring, dan realitasnya jersey itu tidak ada karena mereka tidak mencetak nama pemain wanita di bagian belakang," ungkap Helen mengenang masa awal rintisan usahanya.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi, Helen memulai segalanya hanya bermodalkan mesin press pemanas seharga £200 yang dibeli dari Bolton. Dari kamar tidurnya, ia menjadi orang pertama yang mencetak nama semua pemain Women's Soccer League pada jersey. Seiring perkembangan pesat, Foudys memindahkan operasionalnya menghadap Old Trafford pada 2021, sebelum akhirnya berhasil menarik investasi besar serta menjalin kemitraan strategis dengan apparel raksasa seperti Nike, Adidas, dan Puma.
Dari pantauan redaksi, toko fisik yang resmi dibuka hari ini tidak hanya sekadar destinasi belanja, melainkan pusat kebudayaan sepak bola wanita. Toko di Deansgate ini menawarkan ruang ramah bagi atlet perempuan untuk berkonsultasi mengenai sepatu, sports bra, hingga pakaian dalam performa khusus menstruasi. Keputusan memilih lokasi di Manchester dirasa sangat tepat mengingat kota ini memiliki akar budaya sepak bola yang begitu kaya dibandingkan jika dipaksakan berlokasi di London.